DWARA | Jalur Pedestrian, Menuju Visi Kota Berpusat Manusia
5
post-template-default,single,single-post,postid-5,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,paspartu_enabled,qode-theme-ver-7.9,wpb-js-composer js-comp-ver-4.9.1,vc_responsive
 

04 Oct Jalur Pedestrian, Menuju Visi Kota Berpusat Manusia

Pemandangan yang menarik seringkali terjadi di jalur pejalan kaki, di mana batas ruang publik dan ruang privat melebur, atau sekedar bersinggungan. Pengalaman yang berbeda didapat jika kita sedang berjalan, bukan hanya sebagai pengamat dari dalam kendaraan. Memang dengan berkendara kecepatan dapat diraih, tetapi dengan berjalan kaki relaksasi bisa dinikmati. Sepasang suami-istri berlari pagi, seorang ayah menggandeng anaknya ke sekolah, ibu-ibu bertukar sapa, pedagang sarapan dikerumuni pembeli, seorang gadis membawa anjingnya berjalan-jalan. Aktivitas manusia menjadi seperti film yang bergerak; dengan latar belakang gedung, plaza, ruko, pasar, atau taman. Seluruh pengalaman ini terjadi di ruang publik, ruang bersama yang bisa digunakan secara gratis tanpa mengenal batasan ekonomi maupun sosial manusia sebagai penggunanya.

Pemerintah UK mendeskripsikan ruang publik sebagai suatu sistem kompleks berkaitan dengan segala bagian bangunan dan lingkungan alam yang dapat diakses dengan gratis oleh publik, meliputi: jalan, square/plaza, lapangan, ruang terbuka hijau, selasar antar bangunan, atau ruang privat yang memiliki keterbukaan aksesibilitas untuk publik. Carmona, et al, (2010) menyatakan ada tiga kualitas yang menentukan relativitas ke-publik-an suatu ruang yakni kepemilikan fungsi, akses, dan kegunaan. Selama memiliki kepemilikan fungsi yang netral, dapat diakses oleh publik, dan digunakan secara bersama-sama oleh individu atau kelompok yang berbeda, maka dapat dikategorikan sebagai ruang publik.

Aktivitas di ruang publik akan jauh lebih menyenangkan jika didukung dengan kondisi ruang itu sendiri. Jalur pedestrian lebih diminati pejalan kaki jika dipayungi rindang pepohonan. Taman publik akan lebih menarik jika ada permainan anak, tempat berolahraga, dan dilengkapi bangku taman yang nyaman untuk diduduki sambil membaca buku. Pertokoan lebih mengundang jika memiliki etalase cantik yang menghadap jalan, diselingi meja-meja cafe bagi penikmat kopi untuk saling melihat dan dilihat. Pusat komersial dengan plaza pertunjukan yang dilingkungi bangunan bersejarah memiliki nilai pengalaman yang lebih tinggi bagi penggunanya. Selain nilai positif dari sisi sosial, nilai ekonomi suatu kawasan akan meningkat seiring tingginya aktivitas ruang publik yang indah, aman, dan nyaman.

Di Indonesia pada masa penjajahan kolonial, peraturan pemerintah waktu itu menetapkan bahwa setiap jalan raya yang dibangun hendaknya menyediakan sarana untuk pejalan kaki yang disebut dengan trotoar. Lebar ruas sarana bagi para pejalan kaki atau trotoar ini adalah 5 kaki atau 5 feet (feet = satuan panjang yang umum digunakan di Britania Raya dan Amerika Serikat). Satu kaki adalah sekitar sepertiga meter atau tepatnya 0,3048 m. Maka 5 feet atau 5 kaki adalah sekitar satu setengah meter. Pemerintah pada waktu itu juga menghimbau agar sisi luar dari trotoar disediakan ruang yang agak lebar atau agak jauh dari pemukiman penduduk untuk dijadikan taman sebagai area penghijauan dan resapan air.

Dalam perkembangannya di Indonesia, para pedagang informal menggunakan trotoar untuk berjualan. Maka istilah 5 kaki berubah menjadi kaki-lima. Saat ini sangat jarang ditemui area khusus pejalan kaki, terutama di sisi-sisi jalan raya kota Bandung, karena sudah ditempati pedagang kaki lima tersebut. Pemanfaatan jalur pejalan kaki oleh sektor informal juga meluas ke ruang publik selain trotoar seperti plaza, selasar ruko, teras bangunan, arkade, taman kota, dan lain-lain. Tidak hanya menjadi area berjualan, ruang publik tersebut digunakan pula sebagai area parkir motor, sepeda, bahkan mobil. Desain ruang publik yang tampak indah di atas kertas pada pelaksanaannya menjadi sulit terkontrol akibat konsep kepemilikan dan sektor informal yang tidak terikat aturan pasti.

Dalam studinya, perencana kota Kevin Lynch merumuskan bahwa ruang publik dan jalur sirkulasi -termasuk jalur pedestrian- adalah elemen paling penting dalam pembentukan persepsi sebuah kota. Contoh kota yang mengesankan bagi penulis adalah distrik Manhattan, New York City; salah satu kota terbesar dunia dengan ruang publik yang melimpah dan sangat menarik. Trotoar sepanjang jalan raya bahkan sudah jauh melebihi standar ukuran lebar lima kaki (1.5 m). Lebar jalur pedestrian bisa mencapai 5 hingga 8 meter demi kenyamanan, keamanan dan keselamatan pejalan kaki. Pemilik gedung yang menyediakan area publik di lantai dasar dan bisa diakses oleh pejalan kaki memperoleh insentif dari pemerintah. Maka di area pedestrian dan lantai dasar gedung terbentuk anyaman ruang publik yang sangat hidup dengan berbagai macam aktivitas. Berjalan kaki di kota ini tidak terasa melelahkan dan jauh dari membosankan. Bahkan jalan raya tersibuk di area Times Square saat ini sudah ditutup dari kendaraan, dan khusus diperuntukkan bagi ribuan turis pejalan kaki yang menikmati area tersebut.

Esensi dari sebuah kota tidak hanya menjadi ruang pribadi bagi penghuninya, melainkan kota sebagai ruang-ruang publik tempat para penghuni bisa menikmati lingkungan hidupnya. Dalam perencanaan kota, merencanakan jalur pedestrian sama pentingnya dengan merancang jalan. Konsep Manhattan yang memiliki visi kota berpusat pada manusia dijabarkan oleh New York-based Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) dengan gamblang, “Kita semua adalah pejalan kaki. Berjalan kaki adalah hal yang paling natural, terjangkau, sehat, dan cara paling bersih untuk bepergian. Tetapi untuk itu dibutuhkan lebih dari sepasang kaki. Untuk berjalan kaki dibutuhkan jalan-jalan yang bisa dilewati pejalan kaki dengan nyaman, hal paling fundamental dalam kota yang berkelanjutan. Kota yang paling berhasil dan dicintai di seluruh dunia memiliki jalur pedestrian yang baik dan ‘hidup’. Kota yang menyenangkan dimulai dengan lingkungan pedestrian yang menyenangkan pula.”

Salah satu sumbangsih jalur pedestrian bagi lingkungan kota yang berkelanjutan (sustainable neighborhood) adalah mengurangi jejak karbon pejalan kaki. Dengan berjalan kaki kemacetan dapat dikurangi, dan yang terpenting mengurangi polusi gas CO2. Dengan mengkonversi pemakaian kendaraan bermotor terhadap emisi karbon, maka orang yang berjalan atau bersepeda akumulatif sejauh 100 km akan menghemat pelepasan karbon ke udara sebesar 28.2 kg. Dalam setahun jika 10,000 orang berjalan kaki sejauh 8 km seminggu, maka sudah mengurangi CO2 yang dihasilkan setara oleh 219 mobil. Bayangkan jika sekian banyak orang dalam satu kota mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, maka angkanya akan cukup signifikan dalam mengurangi polusi yang berdampak pada pemanasan global. Program car-free-day di kota-kota besar dunia adalah salah satu contoh bentuk kepedulian terhadap kota yang berkelanjutan.

Keberadaan pengelola kota berikut perangkat peraturannya dalam memelihara ruang-ruang publik bukanlah pekerjaan mudah, terlebih dengan maraknya sektor informal di Indonesia. Maka peran serta masyarakat sebagai pengguna ruang publik sangat penting dalam menjaga nilai (value) ruang bersama termasuk jalur pedestrian. Peraturan lingkungan yang berlaku di ruang publik kota hendaknya menjadi acuan penghuni untuk kepentingan dan keuntungan bersama. Manfaat yang bisa diperoleh tidak hanya dari sisi ekonomi dan sosial, tetapi juga meningkatkan kesehatan lingkungan dan kesehatan pejalan kaki itu sendiri.

Kota yang menyenangkan dimulai dengan lingkungan pedestrian yang menyenangkan pula.
No Comments

Post A Comment